Oleh: Abd. Majid
Madura tidak pernah dibangun dari seonggok tanah gersang yang pasrah menerima takdir. Sejarah mencatat pulau ini dibentuk oleh interaksi intim, berani, dan dinamis antara manusianya, bentang laut yang luas, serta falsafah hidup yang kokoh mengakar. Namun hari ini, jika kita berjalan menyusuri garis pantai pesisir Bangkalan hingga Sumenep, melintasi ruang-ruang publik di jantung kota, atau mengamati selokan di pedesaan, kita akan disuguhi sebuah paradoks visual yang mengerikan. Madura sedang mengalami apa yang dalam psikologi lingkungan disebut sebagai ecological amnesia (amnesia ekologis). Ini adalah sebuah kondisi neuro-kognitif kolektif ketika suatu masyarakat perlahan kehilangan kepekaan terhadap kerusakan lingkungan di sekitarnya karena mereka telah menganggap tumpukan sampah plastik, air keruh, dan degradasi pesisir sebagai bagian dari lanskap keseharian yang “normal” dan tak terbantahkan.
Krisis ekologi di Madura bukan lagi sekadar urusan estetika yang terganggu, bau menyengat di sudut pasar tradisional, atau tumpukan limbah yang mengotori pemandangan. Ini adalah sebuah “amputasi ekologis” terhadap identitas kebudayaan. Ketika ekosistem Madura dinyatakan berada dalam status darurat, yang hancur bukan hanya metabolisme alam fisik an-sich, melainkan struktur berpikir, sistem nilai, dan memori kolektif manusia Madura itu sendiri. Alam tidak lagi dipandang sebagai entitas sakral yang menghidupi, melainkan komoditas yang diperas lalu dibuang sisa-sisanya dalam bentuk limbah yang tak terurai.
Nalar kritis kita tidak boleh hanya berdendang dengan metafora,tetapi juga harus berpijak pada data yang kokoh. Jika kita membedah data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2025, potret makro pengelolaan limbah di empat kabupaten Madura berada pada titik yang mengkhawatirkan. Rata-rata timbulan sampah harian di Madura telah menembus ratusan ton per hari, di mana persentase sampah yang tidak terkelola dengan baik (unmanaged waste) di tingkat domestik masih bertengger di atas angka 40-50%. Sebagian besar dari sampah yang tidak terkelola ini merembes ke saluran air, sungai, dan bermuara akhir di laut.
Kondisi pesisir pun tak kalah sekarat. Data riset kelautan menunjukkan bahwa laju abrasi di sepanjang pantai utara (Pantura) Madura, mulai dari sisa pesisir Bangkalan hingga tebing-tebing pantai di Sumenep, data penelitian menunjukkan laju abrasi berbeda-beda antar lokasi,ada yang sekitar 1 m/tahun, 2–3 m/tahun, bahkan lebih dari 5 m/tahun di beberapa titik akibat hilangnya sabuk hijau mangrove dan penambangan pasir liar. Lebih mengerikan lagi,beberapa penelitian independen terhadap kualitas air di Selat Madura mengonfirmasi adanya akumulasi mikroplastik dengan kepadatan tinggi pada jaringan tubuh ikan komersial seperti kembung dan tongkol. Plastik-plastik berukuran kurang dari 5 milimeter ini dikonsumsi oleh biota laut dan secara tidak sadar masuk ke dalam rantai makanan biologis masyarakat Madura.
Masyarakat Madura secara antropologis terkenal dengan kedekatan spiritualnya yang tinggi terhadap alam. Falsafah hidup lokal selalu menekankan pentingnya harmoni, kehormatan, dan kerja keras. Namun, arus modernitas sekuler membawa gelombang baru yang destruktif, “plastisisasi ruang hidup.” Gelombang ini ditandai dengan penetrasi gaya hidup konsumtif instan global yang dipaksakan masuk ke dalam sistem komunal lokal, tanpa dibarengi oleh kesiapan infrastruktur mitigasi dan pengelolaan pasca-konsumsi yang memadai. Sampah-sampah plastik yang kini menyumbat muara sungai dan menggunung di pesisir Madura adalah wujud material dari benturan budaya tersebut.
Kita sering kali terjebak dalam bias kognitif yang melihat sampah sebagai objek eksogen (sesuatu yang berada di luar diri kita), sebuah problem mekanis yang cukup diselesaikan dengan menyediakan lebih banyak tempat sampah. Padahal, jika dianalisis lebih dalam, carut-marutnya sampah di pesisir adalah cermin retaknya hubungan bhapa’-bhu’ppa’, ghuruh, ratoh (bapak-ibu, guru, pemimpin) dalam konteks tanggung jawab ekologis. Ketika keteladanan lingkungan absen dari ruang-ruang kultural dan struktural, ketika para pemangku kebijakan menganggap isu lingkungan sebagai urusan sekunder dibanding pertumbuhan ekonomi superfisial, maka alam kehilangan pembelanya.
Laut Madura, yang dalam memori kolektif nenek moyang digambarkan sebagai jembatan rezeki dan episentrum spiritualitas, kini dipaksa beralih fungsi menjadi tempat pembuangan akhir (TPA) raksasa. Nilai-nilai kelautan (maritime values) yang dulunya mengajarkan para nelayan tradisional untuk membaca tanda-tanda langit, menghormati siklus kawin ikan, dan menjaga terumbu karang, kini tersumbat oleh jutaan partikel mikroplastik. Mikroplastik ini meracuni biota laut, masuk ke dalam rantai makanan, dan pada akhirnya bersarang di dalam tubuh fisik generasi masa depan Madura. Ini adalah bentuk penjajahan gaya baru, sebuah kolonialisme toksik yang pelan tapi pasti menghancurkan daya hidup manusia Madura dari dalam.
Menempatkan sub-tema kerusakan pesisir dalam lensa yang lebih luas memaksa kita melihat nasib komunitas nelayan Madura yang kian terhimpit. Nelayan bukan sekadar profesi ekonomi, mereka adalah penjaga gerbang kebudayaan maritim Madura. Ketika darurat ekologi terjadi akibat abrasi, reklamasi tanpa amdal yang jelas, serta pencemaran limbah, komunitas nelayan menjadi kelompok pertama yang mengalami pemiskinan struktural.
Secara sosiologis, hancurnya ekosistem pesisir memicu efek domino yang merusak tatanan sosial. Berdasarkan data ekonomi makro daerah, kontribusi sektor perikanan tangkap tradisional di beberapa wilayah Madura mengalami fluktuasi tajam dengan kecenderungan menurun karena nelayan harus melaut lebih jauh (fishing ground bergeser ke tengah) akibat area pesisir yang telah tercemar dan rusak. Biaya operasional untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) yang membengkak tidak sebanding dengan hasil tangkapan.
Kondisi ini memaksa komunitas nelayan terjerat utang, menjual aset-aset produktif, atau bahkan meninggalkan tanah kelahiran untuk menjadi buruh migran di luar negeri. Migrasi paksa akibat kerusakan lingkungan (environmental migration) ini memecah institusi keluarga di Madura. Anak-anak tumbuh tanpa kehadiran orang tua yang utuh, menciptakan kerentanan psikologis baru di tingkat akar rumput. Lebih jauh lagi, hilangnya ruang kelola laut tradisional merusak ritual-ritual adat pesisir, seperti rokat tase’ (petik laut). Ritus yang dulunya sakral sebagai simbol rasa syukur dan negosiasi spiritual antara manusia dan penguasaan laut, kini kerap bergeser maknanya menjadi sekadar festival pariwisata yang artifisial.
Mengapa gerakan regenerasi lingkungan di Madura terkesan berjalan di tempat, atau bahkan mengalami kemunduran? Jawabannya terletak pada bagaimana institusi pendidikan dan sosial kita mengelola rasa ingin tahu (curiosity) dan mengonstruksi isu lingkungan hidup. Selama ini, narasi ekologi di bangku sekolah, pesantren, maupun forum publik kerap dijebak dalam batasan moralitas dogmatis yang kering, linier, dan membosankan, seperti “jangan membuang sampah sembarangan” atau “jagalah kebersihan.”
Pendekatan normatif ini gagal total dalam memicu ketertarikan kognitif yang mendalam pada otak generasi muda. Pendekatan ini membuat isu ekologi terasa seperti beban moral yang menjemukan, bukan sebuah tantangan intelektual yang menantang adrenalin kreatif mereka. Kita perlu menggeser sudut pandang secara radikal, dari sekadar “merawat alam karena kewajiban regulasi atau ketakutan akan sanksi” menjadi “merawat alam sebagai bentuk tertinggi dari pertahanan kedaulatan identitas dan eksistensi”.
Generasi muda Madura harus diajak menyadari bahwa ketika pesisir hancur, tanah mereka terpolusi, dan air bersih menjadi barang langka, yang hilang bukan hanya komoditas alam. Kita sedang kehilangan seluruh kosakata bahasa lokal, kehilangan metafora dalam puisi-puisi kuno, kehilangan ritus budaya, dan menghapus local genius (pengetahuan lokal) yang telah diuji oleh waktu selama ratusan tahun. Jika perusakan ekologi ini terus dibiarkan, generasi Madura di masa depan akan menjadi generasi yang asing di tanahnya sendiri, mereka memiliki darah Madura, tetapi kehilangan tanah air yang membentuk jiwa ke-Madura-an mereka. Itu adalah kerugian eksistensial mutlak yang tidak akan pernah bisa ditebus oleh investasi ekonomi terbesar sekalipun.
Keluar dari kubangan darurat ekologi ini menuntut kita untuk merumuskan langkah taktis yang benar-benar baru dan berani (out of the box). Madura tidak bisa lagi diselamatkan hanya dengan mengandalkan metode konvensional seperti kerja bakti musiman yang seremonial atau pembuatan plang larangan membuang sampah yang kerap diabaikan. Kita harus melakukan perkawinan silang antara kekuatan kultural-spiritual tradisional Madura dengan inovasi teknologi dan pendekatan sosiologis kontemporer melalui dua pilar utama:
Pertama, Digitalisasi Memori Ekologis Madura. Kita harus memanfaatkan teknologi digital bukan hanya untuk hiburan, melainkan sebagai medium perlawanan kreatif. Anak muda Madura harus memimpin gerakan untuk mendokumentasikan, memetakan, dan menyebarluaskan data kerusakan lingkungan secara real-time melalui narasi visual yang sinematik dan menggugah emosi kolektif publik. Data sains yang rumit mengenai pencemaran mikroplastik atau laju abrasi pesisir harus diterjemahkan ke dalam bahasa kebudayaan melalui esai, puisi surrealis, infografis interaktif, dan kampanye digital yang mampu menyentuh amygdala (pusat emosi) masyarakat, sehingga rasa bersalah kolektif berubah menjadi aksi nyata.
Kedua, Kedaulatan Sosiologis Berbasis Laboratorium Komunitas. Kita harus mengembalikan peran pesantren, sekolah, dan organisasi kepemudaan di Madura sebagai laboratorium ekologi aktif. Pesantren, dengan jaringan santrinya yang masif dan pengaruh kulturalnya yang mengakar, harus berada di garis depan dalam merancang sistem Technopreneurship lingkungan hidup. Ini bisa diwujudkan melalui pengembangan teknologi tepat guna, seperti mesin pirolisis pengolah sampah plastik menjadi bahan bakar skala komunitas, sistem penyaringan air mandiri berbasis bahan lokal untuk desa-desa nelayan,hingga pembentukan koperasi sampah digital yang memberikan insentif ekonomi riil bagi masyarakat yang menjaga kebersihan lingkungannya.
Darurat Ekologi Madura adalah alarm keras, sebuah manifeso alam yang menegaskan bahwa tanah ini sedang berteriak kesakitan di bawah beban keserakahan dan kelalaian manusianya. Membiarkan kerusakan ini berlanjut atas nama kepasrahan atau dalih keterbatasan ekonomi adalah bentuk pengkhianatan nyata terhadap warisan para leluhur dan hak-hak generasi yang belum lahir.
Menyelamatkan lingkungan Madura bukanlah aksi heroisme romantis sesaat yang selesai setelah piala lomba diserahkan. Ini adalah sebuah jihad spiritual, sebuah ikhtiar kebudayaan, dan kewajiban eksistensial untuk merebut kembali ingatan kita yang perlahan terkubur di bawah tumpukan limbah plastik. Sudah saatnya kita berhenti menjadi penonton yang pasif di tengah drama kepunahan ekologis tanah kelahiran kita sendiri. Berdiri, bergerak, dan merawat ekologi Madura adalah satu-satunya jalan agar pulau ini tetap menjadi rumah yang ramah bagi manusia, budaya, dan peradabannya.


