Oleh: Siti Norrodia

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pamekasan — Menulis karya ilmiah bukan sekadar merangkai kata menjadi sebuah tulisan. Di baliknya, terdapat proses panjang yang menuntut ketekunan, keberanian untuk mencoba, serta kesediaan untuk terus belajar dari berbagai penolakan. Perjalanan inilah yang mengantarkan salah satu anggota Fradiksi UIN Madura angkatan 2025, Lailatul Jamilah (Iil) meraih pencapaian membanggakan melalui artikel ilmiah yang dinyatakan diterima di Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia (JPTI).

Artikel berjudul “Membangun Keseimbangan antara Teknologi dan Nilai Karakter dalam Pendidikan Era Society 5.0” tersebut dinyatakan diterima berdasarkan surat Letter of Acceptance (LoA) tertanggal 4 Juli 2026. Artikel ini telah diterbitkan dalam JPTI Volume 6 Nomor 9, September 2026. JPTI disebut memiliki peringkat SINTA 3 berdasarkan informasi yang melatarbelakangi pemberitaan ini.

Pencapaian tersebut menjadi langkah penting bagi Iil dalam mengembangkan kemampuan akademik, khususnya di bidang penelitian pendidikan, teknologi, dan penguatan nilai karakter. Namun, keberhasilan itu tidak datang secara instan. Ada proses belajar, pencarian gagasan, pendampingan, hingga pengalaman menghadapi penolakan yang menjadi bagian dari perjalanannya.

Bagi Iil, proses penyusunan artikel bermula dari pengalaman belajar di dua ruang kepenulisan, yakni Kelas Nonfiksi yang diwadahi oleh divisi PSDM Fradiksi dan Kelas Ruang Karya yang didirikan oleh Arinal Haq Fauziyah, demisioner kepengurusan Fradiksi UIN Madura. Melalui kedua ruang tersebut, ia mendapatkan bekal untuk mulai mengenal proses penulisan secara lebih terarah.

Salah satu pembelajaran yang berkesan diperolehnya dari Kelas Nonfiksi bersama  Mastiyanto. Ia mulai memahami bahwa menentukan judul artikel ilmiah tidak cukup hanya dengan memilih topik yang menarik. Penulis juga perlu menemukan kebaruan, mengikuti perkembangan fenomena terkini, dan menelaah penelitian terdahulu agar gagasan yang dikembangkan memiliki dasar yang kuat.

Di balik keberhasilan tersebut, proses penyusunan artikel tidak selalu berjalan mudah.  Perjalanan menuju publikasi juga membutuhkan waktu dan kesabaran. Sebagai penulis pemula, ia mengaku sempat menghadapi penolakan dari beberapa jurnal. Namun, dukungan mentor dan pendampingan dosen turut membantunya memperbaiki naskah hingga akhirnya memperoleh kabar penerimaan dari JPTI.

Menurutnya, Kelas Nonfiksi tidak hanya memberikan pengetahuan tentang penyusunan dan publikasi artikel ilmiah, tetapi juga menghadirkan bimbingan serta motivasi untuk berani berkarya. “Peran kelas nonfiksi di fradiksi sangat krusial bagi saya karena sangat mengayomi dan mendukung sekali terhadap kemampuan mahasiswa, mentor juga selalu memotivasi kami untuk terus belajar menjadi penulis hebat,” ujarnya. Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa ruang belajar yang suportif dapat membantu mahasiswa mengembangkan potensi kepenulisan.