Penulis: Ana Sofiyatul Maulinda
Mata indah itu tampak lelah, tatapannya kosong menyorot ombak yang kian menghantam batu karang di bibir pantai.
“Anayaa” panggilan itu membuat gadis cantik tadi menoleh, “masih lama?” lanjut Fera sahabat Anaya.
Anaya tersenyum melihat ke arah Fera “sebentar yaa”. Gadis cantik itu bernama Anaya Saniar Maesa, hidupnya hampir putus asa lantaran orang tuanya tak pernah setuju dengan pilihan masa depannya. Baginya pantai selalu menjadi tempat ia meluapkan segala bentuk kesedihannya termasuk apa yang Anaya rasakan saat ini. Hampir dua jam Anaya duduk dengan tatapan kosong itu, ia menghembuskan nafasnya yang berat. Hari-hari dia harus berdebat berusaha meyakinkan orang tuanya untuk pergi kuliah ke luar kota. Naas orang tuanya tak pernah sependapat, alasannya selalu sama Anaya seorang gadis.
Disisi lain Fera mondar mandir menggigit kukunya yang lumayan panjang sambil melirik ke arah Anaya. Ia gelisah melihat sahabat satu-satunya tidak ceria lagi.“Anayaa kenapa kamu harus seperti ini? Aku takut ini akan berdampak kepsikologis mu. Aku harus gimana iniii” suara hati Fera degan penuh pertanyaan.
Dengan sedikit ragu Fera menghampiri Anaya.
“Boleh ya aku duduk di sini?” tanya Fera lembut.
Anaya mengangguk dan tersenyum ke arahnya.
“Nayy aku tau kamu sedih, aku tau kamu kecewa. Tapi aku mohon jangan biarin sedih dan kecewa mu mengendalikan kamu” ujar Fera. “Iyaa Fer, aku gapapa kok. Aku cuma pengen nenangin diri” sahut Anaya lesu. Fera meraih bahu Anaya, perlahan Anaya meletakkan kepalanya di bahu Fera. Di sandaran itu Fera bisa merasakan seberapa hancurnya perasaan sahabatnya. Tapi hanya sandaran hangat itu yang bisa Fera berikan.
****
Hampir petang Fera mengantarkan Anaya pulang, lambaian tangan dan senyum Anaya nampak terpaksa. Namun apa daya, Fera hanya bisa membalas senyum itu dengan sedikit kekhawatiran.
Malam itu hujan turun pelan di malam ketika mimpi Anaya runtuh untuk pertama kalinya. Di sudut kamarnya yang remang, gadis itu duduk memeluk map biru berisi brosur kampus impiannya. Di halaman depan brosur itu tercetak megah nama Universitas Airlangga Surabaya dengan logo berwarna biru langit yang selama ini selalu Anaya pandangi seperti seseorang memandangi masa depan. “Psikologi” Satu kata yang ia rawat bertahun-tahun.
Anaya ingin menjadi seseorang yang mampu mendengar luka orang lain tanpa menghakimi. Ia ingin memahami manusia lebih dalam dari sekadar senyum dan tawa yang terlihat di permukaan. Barangkali karena sejak kecil, Anaya tumbuh menjadi anak yang terbiasa menyembunyikan kecewa di balik kata “aku gapapa.” Namun malam itu, semua mimpinya seperti dilipat pelan oleh keadaan.
“Ayah nggak ngizinin kamu kuliah jauh.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi bagi Anaya, rasanya seperti petir yang jatuh tepat di dadanya.
“Di kota ini juga banyak kampus bagus. Perempuan nggak perlu terlalu jauh dari rumah.”
Dua kalimat itu selalu mengahantui pikiran Anaya. Ia ingin membantah. Ingin berteriak. Ingin mengatakan bahwa mimpi tidak pernah tahu soal jarak. Tetapi lidahnya kelu, ia tak punya keberanian untuk mengucapkan itu.
Malam itu, Anaya menangis sendirian di kamar. Ia menangis sampai dadanya sesak, hingga langit-langit kamarnya terasa begitu sempit. Semua bayangan tentang Surabaya, tentang gedung kampus impian, tentang jas almamater biru yang ingin ia kenakan suatu hari nanti, perlahan terasa menjauh. Dan yang paling menyakitkan bukanlah gagal. Melainkan ketika seseorang bahkan tidak
diberi kesempatan untuk mencoba.
****
Tiba-tiba notifikasi itu muncul dari layar handphonenya,
“Kalau capek nangis, istirahat bentar. Jangan sampai matamu bengkak pas
aku video call.” Pesan itu datang dari Fera. Satu-satunya orang yang selalu tahu bagaimana suara hati Anaya bahkan ketika gadis itu memilih diam.
Berbeda dengan Anaya, hidup Fera terasa jauh lebih lapang. Orang tuanya memberi izin penuh untuk merantau ke Malang. Ia diterima di jurusan Manajemen di universitas impiannya. Semua berjalan begitu mulus untuk Fera. Namun
anehnya, tak pernah sekali pun Fera membuat Anaya merasa tertinggal. Melihat pesan yang hanya Anaya baca, tampa ragu detik itu juga Fera menekan tombol video call di layar handphonenya.
Melihat wajah Anaya di layar handphone membuat Fera gempar “NAYAA, TUH KAN NANGISSS”.
Anaya berusaha tegar “Engak kok ga nangis”
“Bohong, mata se bengkak itu di bilang ga nangis” lanjut Fera. Anaya hanya membalas dengan tersenyum. “Nayy, hidup tuh bukan lomba siapa yang paling cepat sampai” ucap Fera
untuk kembali membuat Anaya semangat.
“Kamu ngomong gampang, Fer. Kamu dapet semua yang kamu mau” bantah Anaya.
Di seberang layar, Fera tersenyum kecil “Dan kamu pikir aku nggak iri sama cara kamu bertahan?”.
Anaya terdiam. “Aku boleh punya jalan yang lebih mudah, tapi nggak semua orang bisa
sekuat kamu.” Lanjut Fera.
Tak kuat Anaya langsung menutup panggilan itu.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Anaya sadar bahwa barangkali dirinya terlalu sibuk meratapi pintu yang tertutup sampai lupa bahwa hidup masih punya banyak jendela lain.
****
Beberapa bulan kemudian, Anaya resmi menjadi mahasiswi di salah satu kampus di kotanya. Kampus yang bahkan tak pernah masuk daftar impiannya. Ia memilih Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam. Pilihan yang awalnya terasa seperti keterpaksaan tapi masih selaras dengan kebiasaannya semasa SMA.
Hari pertama kuliah menjadi salah satu hari paling asing dalam hidupnya. Ketika teman-temannya dengan bangga mengunggah foto almamater dan
menuliskan caption penuh rasa syukur, Anaya justru menyembunyikan identitas kampusnya lantaran malu. Malu karena merasa gagal. Malu karena tidak berhasil mencapai tempat yang selama ini ia dambakan. Bahkan kemana-mana Anaya masih menggenggam gantungan kunci Airlangga yang ia punya agar semangatnya terus memberikan kobar setidaknya kampus itu bisa Anaya gapai di S2 nanti.
Setiap kali seseorang bertanya, “Kuliah di mana sekarang?” Anaya selalu menjawab singkat. “Oh… di sini aja.” Seolah kampusnya adalah sesuatu yang harus disembunyikan. Ia sering membandingkan dirinya dengan teman-teman lain yang
kuliah di kota besar. Tentang gedung kampus yang megah. Tentang kehidupan perantauan. Tentang cerita-cerita yang menurutnya lebih membanggakan.
Sementara dirinya? Hanya seorang gadis yang bahkan gagal memperjuangkan langkah pertamanya. Namun hidup memang aneh. Kadang,
Anaya sengaja menempatkan seseorang di tempat yang tidak diinginkan agar orang itu menemukan dirinya sendiri. Semua bermula dari sebuah tugas presentasi. Hari itu dosen meminta seluruh mahasiswa berbicara di depan kelas tentang isu sosial yang mereka pedulikan. Anaya memilih tema tentang kesehatan mental remaja. Tangannya
dingin saat berdiri di depan kelas. Tetapi begitu mulai berbicara, sesuatu dalam dirinya perlahan menyala. Ia berbicara tentang kesepian. Tentang tekanan. Tentang anak-anak yang terlihat baik-baik saja padahal diam-diam sedang hancur. Dan untuk pertama kalinya sejak gagal masuk kampus impian, Anaya merasa dirinya hidup kembali.
Selesai presentasi, dosennya menghampiri. “Kamu punya kemampuan bicara yang kuat. Jangan disia-siakan.” Senyum tulus Anaya kembali “Baik Mrs, mohon bimbingannya dan terima kasih”
Dosen itu mengelus punggung Anaya dengan bangga dan pergi meninggalkan Anaya.
Kalimat itu sederhana. Namun entah mengapa, terasa seperti seseorang sedang menyalakan lilin kecil di dalam dirinya yang lama padam. Sejak hari itu, Anaya mulai berubah. Perlahan, kecil, namun nyata. Anaya mulai aktif mengikuti organisasi kampus. Awalnya hanya sebagai anggota biasa. Lalu menjadi panitia. Kemudian dipercaya memegang berbagai tanggung jawab. Ia belajar menulis, belajar berbicara di depan umum, belajar memimpin, belajar gagal, belajar bangkit, dan yang paling penting Anaya belajar menerima dirinya sendiri.
Tidak semua proses berjalan mudah. Ada hari-hari ketika Anaya kembalimerasa kecil. Ketika ia melihat unggahan teman-temannya di universitas ternama.
Ketika ia mendengar orang-orang membandingkan kampus. Ketika ia merasa usahanya tidak cukup berarti. Tetapi setiap kali ingin menyerah, Fera selalu hadir.
“Nayy, dengar ya…” ucap Fera lewat perantara handphonenya.
“Apa?” lanjut Anaya.
“Kampus itu tempat belajar. Bukan penentu seberapa berharganya seseorang.”
Anaya tersenyum hambar.
“Kamu tahu nggak?” lanjut Fera. “Kadang orang terlalu sibuk mengejar tempat hebat sampai lupa jadi manusia hebat.”
Kalimat itu menempel lama di kepala Anaya. Dan sejak saat itu, ia berhenti bertanya kepada dirinya sendiri “Kenapa aku tidak ada di sana?” dan mulai di ganti dengan kalimat “Apa yang bisa aku lakukan di kampusku sekarang?” Itulah langkah kecil pertama yang mengubah hidupnya.
****
Semester demi semester berlalu. Nama Anaya Saniar Maesa mulai dikenal. Bukan karena asal kampusnya. Bukan karena gelar apa yang ia miliki. Tetapi karena kerja kerasnya. Ia aktif diberbagai kegiatan kampus, dipercaya mengisi acara kampus, mengikuti beberapa lomba, mencari relasi dan pengalaman sebanyak mungkin.
Anaya sudah tidak lagi berjalan sambil menundukkan kepala. Sampai suatu hari, kampusnya mengadakan pemilihan Duta Baca. Anaya tergerak karena ia dari SD sudah gemas sekali membaca, awalnya Anaya bimbang karena saat itu juga perekrutan MIUTV atau humas kampus pun di gelar.
Tetapi seseorang di dalam dirinya berbisik pelan “Bukankah dulu kamu juga pernah berpikir tidak pantas berada di sini?” Akhirnya ia mencoba keduanya. Anaya bekerja keras untuk itu semua, ia
rela mengorbankan waktu luangnya untuk mendapatkan posisi itu. Perjuangannya usai, Anaya hanya menunggu takdir dari hasil yang sudah
dia perjuangkan beberapa hari sebelumnya. Sepanjang pengumuman Anaya gemetaran, ucap bismillah dan dzikir terlantun saat hanya tersisa satu nama untuk posisi winner Duta Baca.
“Anaya Saniar Maesa” nama itu tersebut lantang, perlahan hati dag dig dug nya hilang berganti rasa bangga atas perjalanan hebat yang sudah ia lakukan. Kabar selanjutnya pun datang dengan cepat, saat melihat postingan MIUTV menapakkan
nama Anaya Saniar Maesa dinyatakan lulus sebagai crew MIUTV yang artinya ia akan menjadi bagian dari humas kampus.
Kebahagiaannya datang bertubi-tubi, itu bayaran setimpal dengan pengorbanan yang sudah ia lakukan.
****
Kian hari postingan media sosial Anaya penuh dengan aktivitas positif yang ia ikuti. Gadis yang pernah menangis karena merasa hidupnya selesai hanya karena gagal masuk kampus impian. Padahal ternyata, hidup baru saja dimulai.
Suatu sore, Anaya duduk di taman kampus sambil membaca buku. Angin meniup pelan halaman-halaman yang terbuka. Ponselnya bergetar, pesan dari Fera. “Gimana rasanya jadi orang hebat sekarang?” Anaya tertawa kecil. Lalu mengetik balasan “Aku belum jadi orang hebat”…“Tapi sekarang aku nggak malu lagi sama langkah hidupku.” Beberapa detik kemudian, Fera membalas. “See? Kamu akhirnya sadar kalau gagal bukan akhir segalanya.”
Anaya memandang langit yang mulai jingga. Ia tersenyum tipis, dulu ia pikir hidupnya hancur karena tidak berhasil masuk universitas impian. Namun kini ia mengerti. Terkadang semesta memang tidak membawa seseorang ke tempat yang
ia inginkan. Karena semesta sedang membawanya ke tempat yang ia butuhkan.
Sampainya di rumah Anaya berdiri di depan cermin kamarnya. Matanya memandangi dirinya sendiri cukup lama. Bukan lagi dengan rasa kecewa. Bukan
lagi dengan rasa malu. Melainkan dengan rasa bangga. Ia teringat semua proses panjang yang pernah ia lalui. Tentang air mata, tentang penolakan, tentang rasa iri, tentang hari-hari ketika ia merasa tertinggal. Tetapi juga tentang keberanian, tentang pertemanan, tentang belajar menerima hidup, tentang langkah-langkah kecil yang diam-diam membentuk dirinya menjadi
lebih kuat.
Anaya akhirnya sadar bahwa tidak semua mimpi harus terwujud persis seperti yang kita rencanakan. Kadang mimpi berubah bentuk. Kadang jalan hidup
berbelok. Kadang semesta memaksa seseorang kehilangan arah agar ia menemukan tujuan yang lebih besar. Dan dari semua hal yang pernah terjadi dalam hidupnya, Anaya belajar satu hal. Bahwa perubahan tidak selalu lahir dari langkah besar.
Kadang, perubahan bermula dari hal sederhana, dari keberanian menerima kenyataan, dari memilih bangkit setelah kecewa, dari mencoba lagi meski hati pernah patah, dari percaya pada diri sendiri walau dunia sempat membuatmu ragu.
Karena sesungguhnya, langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan selalu menemukan jalannya menuju perubahan yang bermakna.



