Pernahkah kamu menggulir beranda Instagram atau Tiktok dan melihat postingan orang lain yang menurutmu begitu keren? Ikut seminar nasional, liburan ke tempat-tempat impian, memenangkan lomba-lomba atau pencapaian mereka. Sedangkan di saat yang sama, kamu sedang rebahan sambil mengerjakan tugas yang tak kunjung selesai, dan kamu mulai merasa bahwa hidupmu biasa-biasa saja. Kamu mulai membatin, “Kok aku ketinggalan, ya?”. Nah, itulah Fear of Missing Out atau yang dikenal dengan istilah FOMO. Pertanyaan besarnya, apa benar FOMO bisa menjadi motivasi? Atau justru racun yang merusak mental?
Dilansir dari artikel DJKN, FOMO adalah perasaan cemas atau takut yang timbul karena ketinggalan aktivitas tertentu, seperti pengalaman, berita, tren, atau kesempatan yang dialami orang lain. Media sosial yang menampilkan highlight kehidupan orang lain sering kali memicu perasaan tidak cukup atas diri sendiri. Dirujuk dari Kompas.id, Edward Hutasoit mengatakan bahwa gen Z merupakan superkonsumen media sosial di Indonesia.
Memang tidak bisa dipungkiri, FOMO terkadang mendorong kita untuk mengikuti kegiatan-kegiatan positif. Melihat postingan teman yang aktif di berbagai organisasi membuat kita tertarik untuk mendaftar kepanitiaan. Melihat teman sering memenangkan kejuaraan akademik, memicu kita untuk mendaftar lomba juga. Di sinilah FOMO berperan sebagai pemantik semangat. Rasa takut tertinggal berubah menjadi energi positif untuk mencoba berbagai kesempatan, hal-hal baru, memperluas koneksi, dan keluar dari zona nyaman. Tanpa kita sadari, terkadang FOMO menjadi alarm bahwa waktu kita terbatas dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Namun, tidak sedikit pula generasi muda yang terjebak dalam perasaan tidak berharga, merasa hidup orang lain jauh lebih seru, sedangkan hidup sendiri begitu membosankan. Padahal yang sebenarnya terjadi, sosial media hanya menampilkan potongan kecil kehidupan orang lain yang seolah tanpa celah. Sayangnya, kita sering kali tidak menyadari hal itu. Hal tersebut yang akhirnya menimbulkan rasa iri, cemas, stres, bahkan depresi. FOMO membuat generasi muda lupa pada tujuan pribadi dan menjalani hidup hanya karena ikut-ikutan saja. Generasi muda malah sibuk mengejar validasi dan membandingkan diri dengan orang lain dengan standar yang tidak realistis.
Menurut saya, sejatinya FOMO itu netral. FOMO bisa menjadi motivasi atau racun, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Jika kita bijak menyikapinya, Fomo bisa menjadi pemantik semangat untuk tumbuh dan berkembang. Tetapi jika salah dikelola, FOMO akan menguasai pikiran sehingga membuat kita stress dan mengikis rasa percaya diri.
Kuncinya ada pada kesadaran diri. Sebelum mengikuti suatu kegiatan, tanyakan pada diri sendiri, “apakah ini bermanfaat untukku, atau hanya karena takut ketinggalan tren?”. Dengan begitu, hidup lebih terarah dan fokus pada tujuan serta passion pribadi, tidak hanya sibuk membanding-bandingkan dan ikut-ikutan.
FOMO adalah jalan bercabang bagi generasi muda. FOMO dapat menjadi dorongan untuk melakukan hal-hal positif dan bermanfaat, namun juga dapat menjadi racun yang dapat menggerogoti kepercayaan diri dan membuat generasi muda kehilangan arah. Kita tidak bisa terhindar dari sosial media, tetapi bagaimana cara menyikapinya, itu ada di tangan kita.

