Oleh : Linda Kurniawati
Di sudut pasar malam yang ramai, bau jajanan gorengan menyatu dengan asap bakaran sate, sementara alunan musik dari wahana permainan saling bertabrakan dengan udara malam. Lampu – lampu berwarna – warni berkedip gemerlap, menyinari wajah – wajah pengunjung pasar malam. Namun, di sudut pasar malam dekat pohon mangga yang luput dari sorotan lampu warna – warni, terdapat gerobak tua penuh buku bekas. Lapak kecil itu hanya di terangi oleh sepasang lampu minyak yang bergoyang lembut di terpa angin malam,
menciptakan bayangan – bayangan dari tumpukan buku di sekitarnya.
Penjual nya bernama Pak Geri. Wajah nya di penuhi kriput yang seolah menyimpan cerita panjang tentang perjalanan hidupnya. Rambutnya sudah
memutih sepenuhnya, tetapi matanya masih memancarkan kehangatan yang meneduhkan. Di atas meja kayu nya terpapang papan kecil dari tripleks bekas yang bertuliskan ” Satu Cerita, Seribu Rupiah ” . Di masa ketika semua orang sibuk menatap layar ponsel dan berjalan tergesa-gesa dengan jari jempol bergulir di media sosial, lapak Pak Geri terasa begitu asing. Banyak orang menganggap nya sebagai lelaki tua aneh yang menghabiskan waktu dengan buku-buku usang
dan sudah menguning, mereka yang lewat sering kali hanya melirik sebelah mata.
Hingga suatu malam, seorang remaja bernama Zidan datang menghampiri lapak Pak Geri. Langkah kakinya terseret – seret di atas tanah becek sisa hujan sore tadi, jaket jins yang di kenakannya nampak kusam dan raut wajahnya terlihat jelas
penuh amarah. Dengan langkah lelah ia duduk di bangku kayu panjang yang terletak tepat di dekat grobak buku itu. Zidan sebenarnya tidak tertarik membaca, ia hanya sedang melarikan diri dari rumah setelah pertengkaran hebat dengan ayahnya. Kata – kata makian tajam ayahnya masih terngiang-ngiang di telinganya. Kepalanya di penuhi kemarahan yang membara dan dadanya sesak oleh rasa kecewa, dan ia merasa hidup nya tidak pernah di anggap berarti oleh siapapun, termasuk keluarga nya sendiri.
Pak Geri tidak banyak bertanya dan tidak pula mendesak nya untuk membeli buku. Ia hanya menyodorkan segelas teh hangat ke arah Zidan, lalu mengetuk pelan papan kecil di mejanya dengan ujung jari “kalau mau saya punya cerita, harganya
cuma seribu rupiah” Ucapnya pelan, Zidan mendecih kecil, ia merogoh saku celana nya dan menemukan uang seribu rupiah lalu meletakkan nya di hadapan pak Geri. Dalam hati ia berfikir setidaknya cerita ini bisa mengalihkan pikiran ku
sebentar saja. Pak Geri tersenyum samar, ia memungut sepotong kayu kecil di sekitarnya dan
memutarnya perlahan di tangan, lalu mulai berkisah. ” Dulu ada sebuah pensil baru” Katanya memulai. “Pensil itu di simpan di dalam sebuah kotak yang indah, bentuknya panjang, runcing dan sempurna. Si pensil merasa dirinya di buat untuk
menciptakan mahakarya luar biasa”. Pak Geri berhenti sejenak sebelum melanjutkan kisahnya.
” Namun suatu hari saat di gunakan menulis, tangan yang memegangnya menekan
terlalu keras. Dan seketika pensil itu patah dan terbelah menjadi dua bagian”.
Zidan masih diam, tetapi kini perhatian nya mulai tertuju pada cerita itu. “Pensil itu merasa hidupnya selesai” Lanjut pak Geri. “Ia mengira dirinya sudah
tidak berguna lagi. Tubuhnya tak lagi sempurna, ujungnya rusak dan ia yakin akan di buang begitu saja”. “Namun ternyata pemiliknya tidak membuangnya. Ia justru mengambil rautan, lalu meraut kedua bagian pensil itu perlahan-lahan. Memang menyakitkan, karena kayunya terkikis sedikit demi sedikit. Tapi setelah selesai,
pemiliknya kini memiliki dua pensil.” Pak Geri menatap Zidan lembut. “Yang satu dipakai menulis puisi, sementara yang satunya lagi digunakan untuk menggambar, Sesuatu yang tidak mungkin di lakukan jika pensil itu tetap utuh dan tersimpan di dalam kotak”.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Malam terasa mendadak lebih sunyi bagi Zidan. Keramaian pasar malam, gelak tawa pengunjung dan alunan musik di wahana permainan yang tadi terasa memekakkan telinga zidan seolah menjauh dan leyap perlahan-lahan. Cerita sederhana dari pak Geri mampu menghantam perasaannya dan meruntuhkan dinding keangkuhan yang ia bangun malam itu. Selama ini Zidan merasa hidupnya hancur. Tekanan dari ekspektasi keluarga yang terlalu tinggi, dan kegagalan dalam hidupnya serta keadaan ekonomi yang membuatnya seakan sesak untuk bernafas, dan ingin menyerah saja untuk hidup. Ucapan ayahnya yang menyebut nya sebagai “Anak tidak berguna” Membuat Zidan merasa seperti benda rusak yang tak lagi punya masa depan. “Kenapa kakek menceritakan hal itu kepada saya?” Tanya zidan lirih, suaranya kini mulai bergetar hebat, menahan gelombang emosi yang menyesakkan dadanya. Pak Geri tidak langsung menjawab, ia mengambil kembali uang seribu
rupiah yang tadi di letakkan Zidan, lalu mengambil tangan remaja itu. Pak Geri meletakkan uang tersebut kembali ke atas telapak tangan Zidan, lalu
menggenggam nya dengan kedua tangan nya yang terasa hangat dan kasar. “Karena malam ini, saya melihat seseorang yang sedang patah” Jawab pak Geri penuh ketenangan. . “Kadang-kadang, hidup memang menekan kita terlalu keras, Zidan. Keadaan, orang-orang di sekitar kita, bahkan kegagalan kita sendiri menekan sampai kita retak dan hancur. Tapi ingatlah cerita pensil tadi. Patah tidak selalu berarti selesai. Patah tidak selalu berarti akhir dari segalanya. Bisa jadi, justru dari titik patah inilah, hidupmu sedang diraut ulang. Kamu sedang dibentuk untuk menjadi seseorang yang jauh lebih baik dari apa yang belum pernah kamu
bayangkan sebelumnya.”Pertahanan Zidan runtuh seketika. Air mata yang sudah ia tahan sejak sore tadi kini akhirnya jatuh mengalir deras membasahi pipinya. Bahunya berguncang hebat saat ia menundukkan kepala di atas meja kayu Pak Geri. Tangis nya memang tidak bersuara namun penuh sarat kegetiran yang mendalam.

Di bawah cahaya lampu minyak yang redup dan bergoyang lembut tertiup angin malam, Zidan membiarkan dirinya menangis sepenuhnya. Anehnya, bersamaan dengan jatuhnya air mata itu, beban berat yang selama ini menyesakkan dadanya
perlahan-lahan terasa luruh dan terangkat. Rasa hangat dari genggaman tangan Pak Geri seakan-akan menyalurkan kekuatan baru baginya. Malam itu di ujung pasar malam yang bising sebuah cerita sederhana seharga seribu rupiah tentang pensil patah berhasil menyentuh bagian terdalam dari hati
seorang remaja yang terluka. Zian mendongak, menghapus sisa air matanya, dan memandang uang seribu rupiah di tangannya. Ia tahu jalan di depannya tidak akan langsung menjadi mudah, tetapi malam ini, ia pulang dengan satu keyakinan baru: ia siap untuk diraut kembali.

Di tengah keramaian pasar malam yang masih riuh oleh suara musik dan tawa pengunjung, langkahnya perlahan terasa lebih ringan, seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang mulai pulih sedikit demi sedikit. Ia mulai mengerti jika tidak semua yang patah harus dibuang. Beberapa hal justru menjadi lebih berarti setelah retak, karena dari luka itulah manusia belajar bertahan, tumbuh, dan menemukan dirinya yang baru.