Jakarta – Suasana di depan Gedung DPR RI kembali memanas. Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta menggelar aksi demonstrasi besar-besaran, menyuarakan kekecewaan mereka terhadap kebijakan wakil rakyat.
Dua tuntutan utama menjadi sorotan: penolakan tunjangan anggota DPR yang dinilai terlalu fantastis dan mendesak pengesahan RUU Perampasan Aset.
Aksi yang berlangsung sejak pagi hari ini diawali dengan orasi-orasi kritis yang menyoroti ketidakpekaan para pejabat terhadap kondisi ekonomi rakyat. “Di saat rakyat susah, mereka malah minta tunjangan naik. Ini bukan hanya tidak etis, tapi juga melukai hati kita,” teriak salah satu orator dari atas mobil komando.
Selain itu, mahasiswa juga menyoroti lambannya DPR dalam mengesahkan RUU Perampasan Aset. Mereka percaya bahwa regulasi ini adalah kunci untuk memiskinkan koruptor dan mengembalikan uang negara. “Sudah berapa tahun RUU ini mandek? Bukankah ini bukti bahwa mereka tidak serius memberantas korupsi?” ujar mahasiswa lainnya.
Sempat terjadi ketegangan saat massa mencoba merangsek masuk ke dalam area gedung. Polisi dengan sigap membentuk barikade, dan aksi saling dorong pun tak terhindarkan. Meski demikian, situasi akhirnya dapat dikendalikan.
Aksi ini menjadi pengingat kuat bahwa mahasiswa masih memegang peranan penting sebagai agen pengawas sosial. Mereka tidak akan tinggal diam jika kebijakan pemerintah dinilai tidak berpihak pada kepentingan rakyat.
Gerakan ini, bagaimanapun, menunjukkan bahwa tuntutan mahasiswa kini semakin terfokus dan konkret: dari menuntut keadilan ekonomi hingga mendorong upaya nyata dalam pemberantasan korupsi.



