Penulis : Abd. Majid

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Di bawah langit Desa Saloka yang meredup, suasana di halaman rumah Sadiman justru terasa panas membakar. Bunawi, seorang tengkulak tembakau paling berpengaruh di Desa Saloka, berdiri dengan berkacak pinggang tepat di depan lencak (balai-balai atau meja bambu) tempat Sadiman memajang tumpukan buku tua miliknya.

“Mulai besok, bubarkan tempat ini, Sadiman! Kalau tidak, jangan salahkan kalau warga yang akan datang dan membakar semua kertas-kertas sialan ini!” bentak Bunawi.

Suaranya yang menggelegar membuat anak-anak kecil yang sedang memegang buku langsung ciut dan bersembunyi ketakutan di balik punggung Sadiman.

Sadiman merasakan detak jantungnya berpacu cepat. Menghadapi ancaman pembakaran itu, ia hanya bisa memeluk erat sebuah buku tua yang sampulnya mulai mengelupas, mencoba bertahan di atas tanah kapur desanya yang keras. Di tempat ini, perubahan sekecil apa pun memang harus dibayar dengan keberanian yang besar.

Sebelum badai sore itu pecah, Desa Saloka adalah hamparan keheningan yang patuh pada tradisi. Jika musim kemarau tiba, tanah kapurnya akan retak-retak menyerupai sisik naga purba, dan debu putih akan terbang setiap kali angin timur berembus kencang, membawa aroma garam dan daun tembakau yang mulai mengering di atas para-para bambu.

Di desa ini, kebanggaan pria Madura diukur dari dua hal, luasnya petak ladang tembakau yang hijau menawan saat musim kemandit, atau seberapa tangguh sapi- sapi kerapan milik keluarga mereka melesat di lapangan berpasir.

Namun, Sadiman tidak memiliki keduanya. Ia hanya memiliki sebuah gubuk anyaman bambu yang meranggas di sudut desa, sepetak halaman yang gersang, dan sebuah peti kayu tua berisi tumpukan kertas yang sebagian besarnya sudah menguning dikunyah waktu. Bagi orang-orang tua di desa, apa yang dimiliki Sadiman tidak ada harganya.

Selepas menunaikan salat Magrib di musala beratap rumbia milik Kyai Muzakki, Sadiman biasanya duduk di undakan tangga kayu, menatap beberapa anak lelaki yang sedang asyik bermain di halaman madrasah yang diterangi lampu neon lima watt.

“Rojul,” panggil Sadiman lembut kepada salah satu anak yang kaosnya sudah basah oleh keringat.

Anak berusia sepuluh tahun itu menoleh, memegang potongan kayu dengan tangan yang dekil. “Apa, Mas Sadiman?”

“Kamu sudah selesai membaca buku tentang petualangan si cerdik di hutan belantara yang kemarin kutitipkan?”

Rojul menyengir, memperlihatkan deretan giginya yang tidak rata. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Belum, Mas. Kata-katanya susah. Banyak kata yang saya tidak mengerti. Lagian, Abah menyuruh saya membantu memotong rumput untuk pakan sapi kerapan setelah pulang sekolah. Kata Abah, membaca buku tidak bisa membuat sapi kita lari lebih cepat.”

Sadiman tersenyum tipis. Tidak ada rasa kecewa di wajahnya yang tirus. Kalimat seperti itu sudah seperti sarapan pagi baginya. Di desa ini, aksara adalah hal sekunder. Aksara hanya dibutuhkan untuk membaca mantra doa, mengecek nota, atau menghitung hari baik berdasarkan pasaran penanggalan Jawa-Madura saat hendak mengawinkan anak. Di luar itu, buku-buku dianggap sebagai barang mati yang hanya menghabiskan ruang.

“Tidak apa-apa,” kata Sadiman, meraba saku bajunya dan mengeluarkan sebutir permen jahe, lalu melemparnya ke arah Rojul. “Besok kalau ada waktu luang, bawa bukunya ke rumah. Kita baca sama-sama sambil minum wedang jahe.”

Rojul menangkap permen itu dengan mata berbinar, mengangguk cepat, lalu kembali berteriak memanggil teman-temannya untuk melanjutkan permainan. Sadiman bangkit, membetulkan letak sarung setangan bermotif batik yang melilit pinggangnya, lalu berjalan pulang di bawah temaram rembulan. Langkah kakinya yang beralaskan sandal jepit tua memecah kesunyian malam Saloka. Di kepalanya, sebuah rencana kecil yang mungkin dianggap gila oleh orang sewajarnya sedang dirajut dengan benang-benang keberanian yang tipis.

Keesokan harinya adalah hari pasar. Pasar desa yang terletak di dekat pelabuhan rakyat itu riuh rendah sejak subuh. Aroma petis madura yang pekat bercampur dengan bau amis ikan tongkol segar dan wangi dupa yang dibakar di sudut warung kopi. Para perempuan paruh baya dengan kain sarung melilit dada dan bedak dingin putih yang tebal di pipi, sibuk tawar-menawar dengan suara melengking khas yang terdengar seperti pertengkaran, padahal itu hanyalah keakraban yang jujur.

Sadiman tidak pergi ke pasar untuk berbelanja. Ia membawa sebuah lencak yang ia pikul sendiri dari rumahnya. Di atas lencak itu, ia meletakkan sebuah kotak kayu tanpa tutup. Di dalamnya berjejer rapi sekitar tiga puluh buah buku. Ada buku cerita rakyat, buku panduan menanam sayur di lahan kering, buku pengetahuan umum penuh gambar, hingga beberapa novel tua yang halamannya sudah lepas-lepas.

Ia menaruh lencak itu di bawah pohon kersen yang rindang, tepat di seberang warung kopi Cak Mamat, tempat para lelaki biasanya berkumpul selepas menjual hasil bumi.

“Hei, Sadiman! Jualan apa kamu? Kitab primbon?” teriak Cak Mamat dari balik dandang kopi setinggi setengah meter. Beberapa orang yang sedang mengisap rokok lintingan sendiri tertawa terbahak-bahak.

Sadiman hanya tersenyum. Ia duduk bersila di tanah, di samping lencak-nya. “Ini bukan jualan, Cak Mamat. Ini gratis. Siapa saja boleh ambil, boleh baca di sini, atau dibawa pulang kalau berani mengembalikan.”

“Gratis?” Mat Solar, seorang makelar sapi yang terkenal dengan kumis tebalnya yang melintang, menyahut sambil memegang cangkir kopi. “Kalau gratis, mana ada untungnya? Di Desa ini, Man, kalau tidak ada buntet-nya (keuntungan materi), buat apa capek-capek memikul bambu dari ujung kampung?”

“Untungnya bukan buat saya sekarang, Cak Mat. Tapi buat anak-anak kita nanti,” jawab Sadiman tenang. Suaranya tidak tinggi, namun memiliki ketegasan yang membuat tawa beberapa orang di warung itu mereda perlahan. “Anak-anak kita butuh tahu cara merawat tanah ini dengan lebih baik ketika air makin susah didapat. Mereka butuh tahu kalau dunia ini tidak cuma sebatas selat yang kita lihat setiap hari,” tambah Sadiman, sambil membuka salah satu buku bergambar hamparan perkebunan modern di negeri yang jauh.

Mat Solar mendengus, namun matanya sempat melirik gambar berwarna terang di buku yang dipegang Sadiman. Ia tidak berkomentar lagi, lalu kembali menyeruput kopinya yang hitam dan kental.

Sepanjang pagi hingga siang, tidak ada satu orang dewasa pun yang mendekat ke lencak Sadiman. Mereka lalu-lalang membawa keranjang sayur, memikul karang garam, atau menuntun kambing dengan pandangan acuh tak acuh. Beberapa orang memandang Sadiman dengan tatapan kasihan, mengira pemuda yatim piatu itu mulai kehilangan akal sehatnya sejak ditinggal mati oleh kakeknya setahun lalu.

Namun, ketika matahari mulai tepat berada di atas kepala dan pasar mulai berangsur sepi, langkah-langkah kecil mulai terdengar. Tiga orang anak perempuan yang baru pulang dari sekolah dasar, dengan seragam putih-merah yang sudah kusam dan debu jalanan yang menempel di kaus kaki, berhenti di depan pohon keres.

Salah satu dari mereka, Fatimah, anak seorang nelayan miskin di pesisir, menatap ragu ke arah kotak kayu.

“Mas… ini beneran boleh dibaca?” tanya Fatimah malu-malu, jemarinya memainkan ujung jilbab putihnya yang sedikit robek.

“Boleh, Fatim. Pilih saja mana yang kamu suka. Ada gambar lumba-lumba dan laut yang besar di dalam buku biru itu,” kata Sadiman sambil menyodorkan buku ensiklopedia satwa yang sampulnya bergambar lumba-lumba melompat di laut lepas.

Fatimah menerima buku itu dengan kedua tangan yang gemetar kecil. Ketika ia membuka halaman pertama dan melihat gambar samudera yang biru bersih sangat berbeda dengan air laut di dermaga desa mereka yang sering keruh oleh solar perahu, matanya membelalak kagum. Kedua temannya segera merapat, ikut mengintip dari balik bahu Fatim.

Dalam sekejap, di bawah pohon keres yang berdebu itu, tawa kecil tiga anak perempuan pecah. Mereka duduk di tepi lencak, melupakan panasnya terik siang.

Madura, tenggelam ke dalam dunia baru yang terbuat dari kertas dan tinta. Sadiman yang melihat hal itu merasa dadama mendadak penuh. Langkah pertamanya baru saja dimulai.

Satu bulan sejak Sadiman menggelar lencak bacanya di pasar dan di halaman rumahnya setiap sore, desas-desus yang digulirkan oleh Bunawi dan para tengkulak akhirnya memuncak. Isu bahwa Sadiman menyebarkan ajaran pembangkangan membuat belasan warga mendatangi rumahnya sore itu, menuntut agar tempat baca itu ditutup selamanya.

Di tengah situasi genting saat Bunawi mengancam akan membakar semua buku- buku tersebut, sebuah suara batuk yang berwibawa terdengar dari arah pintu pagar.

“Ehem.”

Semua orang menoleh. Di sana berdiri Kyai Muzakki, pemimpin surau desa, lengkap dengan jubah putih dan sorban hijaunya. Tubuhnya yang sudah agak membungkuk ditopang oleh sebatang tongkat kayu jati.

“Kyai…” Bunawi mendadak menurunkan tangannya yang tadinya berkacak pinggang, suaranya melunak seketika. Orang-orang yang berkerumun di luar pagar langsung membuka jalan dengan takzim. Kyai Muzakki berjalan perlahan mendekati lencak. Matanya yang teduh menatap tumpukan buku, lalu beralih ke wajah Sadiman yang pucat, dan terakhir ke arah Bunawi.

“Ada apa ini, Bunawi? Kenapa sore-sore begini suaramu terdengar sampai ke surauku?” tanya Kyai Muzakki lembut namun berwibawa. “Ini, Kyai… si Sadiman,” kata Bunawi, mencoba mencari pembelaan. “Dia mengumpulkan anak- anak, mengajari mereka hal-hal yang tidak jelas. Kami khawatir mengganggu waktu mengaji mereka di surau Kyai.”

Kyai Muzakki tersenyum tipis. Beliau berjalan mendekati kotak kayu, lalu mengambil sebuah buku secara acak. Kebetulan yang terambil adalah buku terjemahan juz amma bergambar dengan penjelasan sains sederhana tentang penciptaan langit dan bumi. Beliau membalik halaman demi halaman dengan jemarinya yang keriput.

“Bunawi,” kata Kyai Muzakki setelah beberapa saat hening. “Wahyu pertama yang turun kepada Nabi kita itu bukan perintah untuk salat, bukan perintah untuk berperang, dan bukan pula perintah untuk mencari uang.” Beliau berhenti sejenak, memandang semua orang yang kini terdiam seribu bahasa.

“Iqra’. Bacalah,” lanjut Kyai Muzakki dengan suara yang bergetar penuh penekanan. “Apa yang dilakukan Sadiman ini adalah menjalankan perintah itu. Anak-anak ini tetap datang ke surauku setiap Magrib, dan belakangan ini, hafalan mereka justru makin lancar karena mereka sudah terbiasa mengeja aksara di sini. Jadi, bagian mana dari perbuatan Sadiman yang meresahkanmu?”

Bunawi membeku. Wajahnya yang tadinya merah padam karena amarah, kini berubah menjadi kemerahan karena malu. Ia menunduk, tidak berani menatap mata sang Kyai yang begitu dihormati di seluruh pelosok Madura itu.

“Jika kamu takut anak-anakmu menjadi lebih pintar darimu, Bunawi, maka caranya bukan dengan menjauhkan mereka dari buku,” kata Kyai Muzakki lagi, sambil menepuk pundak Bunawi dengan lembut. “Tapi ikutlah membaca bersama mereka. Tanah Madura ini tidak akan pernah maju kalau kita hanya mengandalkan otot tanpa membiarkan pikiran anak-anak kita terbang melihat dunia.”

Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Bunawi berbalik dan berjalan cepat meninggalkan halaman rumah Sadiman, diikuti oleh rekan-rekannya yang tampak salah tingkah. Warga yang berkerumun di luar pagar pun perlahan membubarkan diri dengan berbisik-bisik.

Kyai Muzakki menoleh ke arah Sadiman, mengembalikan buku ke dalam kotak, lalu mengusap kepala Rojul yang masih ketakutan. “Lanjutkan, Man. Langkahmu sudah benar. Tapi ingat, menanam kebaikan di tanah yang keras butuh kesabaran yang lebih panjang dari musim kemarau.”

“Terimakasih, Kyai,” bisik Sadiman dengan mata yang berkaca-kaca.

Dua tahun telah berlalu sejak peristiwa sore yang menegangkan itu. Desa Saloka tidak serta-merta berubah menjadi kota metropolitan yang modern, dan memang bukan itu yang diinginkan oleh Sadiman. Namun, sesuatu yang tak kasat mata telah bergeser di sana.

Kotak kayu kecil di atas lencak itu kini telah berganti menjadi sebuah bangunan semi-permanen berukuran tiga kali empat meter di samping rumah Sadiman, yang dibangun secara gotong-royong oleh warga desa yang mulai sadar. Mereka menyebutnya “Gubuk Aksara”. Berkat bantuan seorang mahasiswa asal Madura yang kuliah di Surabaya, kiriman buku-buku bekas berkualitas terus mengalir setiap bulannya.

Perubahan-perubahan kecil mulai menampakkan wujudnya yang nyata. Di sudut ladang milik salah satu warga, kini berdiri sebuah kincir angin bambu sederhana yang dihubungkan dengan pompa air, persis seperti gambar di buku yang pernah dibaca Hasan, anak yang dulunya dilarang membaca oleh ayahnya. Pompa itu berhasil mengalirkan air dari sumur bor ke ladang tembakau saat puncak kemarau, menyelamatkan panen keluarga mereka.

Fatimah, anak nelayan yang dulu mengagumi gambar lumba-lumba, kini menjadi juara lomba menulis esai tingkat kabupaten dengan tulisan yang membahas tentang pentingnya menjaga kebersihan terumbu karang di Selat Madura agar hasil tangkapan ikan para nelayan tradisional tetap melimpah.

Dan yang paling mengejutkan adalah sore itu, ketika matahari kembali berada di posisi ujung tanduk, Mat Solar, sang makelar sapi yang dulunya paling keras

menertawakan Sadiman, berjalan ragu-ragu memasuki Gubuk Aksara.

Sadiman, yang sedang menyusun buku-buku baru, menoleh dan tersenyum menyambut kedatangannya. “Eh, Bang Mat. Nyari buku cerita buat si kecil?”

Mat Solar menggeleng, wajahnya yang garang tampak kikuk. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari balik saku bajunya.

“Bukan, Man,” kata Mat Solar dengan suara yang dipelankan, seolah takut terdengar oleh anak-anak yang sedang membaca di sudut ruangan. “Anakku, si Rojul, sekarang kalau malam sering bertanya tentang hitungan persenan keuntungan modal di buku sekolahnya. Aku ini makelar, Man. Malu kalau sampai salah hitung di depan anak sendiri. Boleh tidak… kamu ajari aku sedikit tentang matematika pasar yang ada di buku-buku itu? Tapi jangan bilang-bilang yang lain ya.” Sadiman menatap pria bertubuh kekar itu. Ia tidak melihat lagi kecongkakan seorang makelar sapi yang merasa paling tahu segalanya. Yang ada di depannya adalah seorang ayah yang ingin meruntuhkan ego besarnya demi bisa berjalan beriringan dengan masa depan anaknya.

“Tentu saja boleh, Bang Mat,” kata Sadiman hangat. Ia mengambil sebuah buku panduan matematika terapan sederhana, lalu menarik dua buah kursi bambu ke sudut ruangan yang agak sepi. “Mari kita duduk di sini. Kita mulai dari hal yang paling mudah.”

Di luar Gubuk Aksara, angin timur masih berembus kencang, membawa debu putih tanah kapur Desa Saloka. Namun, sore itu, debu-debu tersebut tidak lagi terasa gersang. Di bawah naungan langit Madura yang luas, aksara-aksara yang dulunya dianggap sebagai benda mati telah menjelma menjadi air yang meresap perlahan ke dalam retakan tanah yang paling keras sekalipun, menumbuhkan tunas-tunas perubahan yang tidak akan pernah bisa dicabut lagi oleh ketakutan masa lalu.